Selamat Datang di Website BANK NTTSUKU BUNGA DASAR KREDIT (SBDK) : 1. KREDIT KORPORASI 10.43%, KREDIT RITEL 11.71%, KREDIT MIKRO 10.45%, KREDIT KONSUMSI (KPR) 10.40%, KREDIT KONSUMSI (NON KPR) 14.34% 

Bank NTT Dukung Revolusi Pertanian di Malaka 2016

Bank NTT Dukung Revolusi Pertanian di Malaka

Revolusi memperoleh makna negatif sepanjang abad 20. Sebagaimana hakikat revolusi, sebuah perubahan yang terjadi dengan cepat seringkali menuntut korban dan disertai dengan kekerasan bersenjata. Beberapa revolusi yang cukup banyak makan korban adalah Revolusi Perancis, revolusi Bolshevik di Rusia dan Revolusi Kebudayaan di China.  Di abad 21 ini trend revolusi sebagai momok yang menakutkan bagi kemapanan kekuasaan pun melanda kawasan arab yang dikenal dengan istilah Arab Spring. Arab yang tak sekedar sebagai sebuah wilayah geografis namun juga sebagai wilayah kebudayaan luluh lantak. Dimulai dari Tunisa, perlahan-lahan revolusi merambat hingga Libia, Mesir dan menciptakan ketidakstabilan negara lainnya di  jazirah arab. Di Indonesia revolusi pernah mengalami masa keemasan. Dalam jaman pergerakan, revolusi menjadi bahan bakar bagi Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka dalam mewujudkan Indonesia Merdeka. Dalam masa Orde Lama di bawah Soekarno revolusi semakin memperoleh gaungnya. Ia selalu menjadi kata yang seringkali muncul hampir dalam setiap pidato Presiden Indonesia pertama tersebut. “Revolusi kita belum selesai”, ujarnya. Namun di Indonesia juga kata revolusi pernah hampir tidak memperoleh tempat. Sepanjang masa Orde Baru revolusi merupakan kata yang wajib dihilangkan dari setiap buku-buku teks.

Kini revolusi kembali menemukan tempatnya yang layak. Ia hadir dengan citra positif kala Pemerintah Indonesia saat ini mengambil tagline Revolusi Mental. Revolusi saat ini bukanlah revolusi fisik atau bersenjata, melainkan sebuah revolusi pada tataran pola pikir dan cara hidup. Revolusi mental menekankan pada pola pikir manusia Indonesia baru yang dapat beradaptasi dalam menghadapi tantangan dan perubahan jaman.

Di NTT, tepatnya di kabupaten Malaka juga lahir sebuah revolusi. Revolusi Pertanian  jadi tema pembangunan kabupaten termuda di NTT ini. Revolusi Pertanian di Malaka  bukanlah Revolusi Kebudayaan sebagaimana yang diterapkan Mao Tse Tung di China. Dalam jaman Mao kala itu ia mewajibkan seluruh masyarakat di China untuk kembali ke lahan-lahan pertanian. Seluruh pabrik dan industry ditutup dan diambil alih negara. Lain China lain Malaka. Revolusi Pertanian yang sedang dicanangkan pemerintah kabupaten Malaka berorientasi pada penguatan potensi pertanian yang telah ada. Bercocok tanam merupakan akar masyarakat Malaka dan 90 persennya merupakan petani.  Penguatan kapasitas produksi pertanian melalui bantuan penyediaan bibit berkualitas, pupuk dengan harga terjangkau, bantuan peralatan pertanian modern serta jaringan irigasi sangat dibutuhkan masyarakat. Selain itu juga dibutuhkan intervensi pemerintah sebagai katalisator harga produk pertanian yang dihasilkan masyarakat  agar petani tetap memperoleh tempat dalam pasar yang seringkali merugikan. Petani harus memiliki ruang pemasaran yang memadai tentunya. Satu hal mendasar lainnya yang juga dibutuhkan petani di Malaka saat ini adalah akses permodalan. Sebagai Bank Pembangunan Daerah, Bank NTT selalu terbuka terhadap kebutuhan modal yang diperlukan para petani di Malaka. Hal tersebut mengemuka pada saat launching Program Revolusi Pertanian di desa Kletek, Malaka,Rabu (31/8) yang dihadiri oleh Bupati Malaka Stef Bria Seran, Wakil Pemimpin Cabang Bank NTT Betun, Arnoldus Siku, jajaran pimpinan SKPD serta masyarakat desa Kletek. Berbagai teknik pertanian yang dijalankan baik itu diversifikasi, intensifikasi, hingga mekanisasi pertanian membutuhkan modal. Hal ini tentunya agar masyarakat tak sekedar bergantung sepenuhnya kepada pemerintah namun dapat menjadi petani yang mandiri dan bertanggung jawab. Mengajukan kredit jangan dipandang sebagai beban melainkan sebuah pendorong atau pemacu hidup. Yang acapkali terjadi adalah dengan adanya situasi tertentu menyebabkan orang melakukan hal-hal yang berada diluar kemampuan dan memperoleh hasil yang lebih. Untuk membantu petani dalam memperoleh akses modal maka Bank NTT menyediakan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit Mikro. Melalui fasilitas KUR para petani dapat memperoleh akses modal dengan bunga per tahunnya hanya 9 persen, sementara melalui kredit Mikro di Bank NTT petani dapat memperoleh modal maksimal Rp.50 juta dengan bunga 22% per tahun tanpa agunan. Selanjutnya, tak sekedar menanam, petani di Malaka juga membutuhkan pendampingan dari tenaga penyuluh pertanian serta pembinaan pengolahan produk pertanian. Pengolahan produk pertanian untuk menghasilkan produk turunan dengan nilai ekonomi serta nilai jual yang baik akan menghindarkan petani dari turunnya harga jual produk pertanian sebagai akibat over produksi ataupun tidak terserapnya produk pertanian tersebut di pasar. (jr)

post1