PT Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) dan PT Penjaminan Kredit Daerah Nusa Tenggara Timur (Jamkrida NTT) menyepakati kerja sama mengenai peralihan hak tagih atau subrogasi, Kamis, 8 Oktober 2026. Kerja sama tersebut menjadi payung hukum dalam pengelolaan kredit yang mendapat penjaminan dari Jamkrida NTT, khususnya terkait mekanisme penagihan apabila terjadi gagal bayar oleh debitur. Direktur Utama Bank NTT, Charlie Paulus, mengatakan kerja sama subrogasi tersebut bukan hal baru. Kerja sama antara Bank NTT dan Jamkrida NTT telah berjalan sejak 2013. “Perjanjian yang kita tanda tangani hari ini merupakan amandemen, perpanjangan perjanjian dan diperbaharui,” kata Charlie usai penandatanganan di Kantor Pusat Bank NTT. Menurutnya, pembaruan perjanjian terutama memperjelas aspek legal terkait subrogasi atau pengalihan hak tagih. “Pengaturan terkait penagihan kepada debitur itu yang kita buat sekarang. Jadi ada role yang jelas antara Jamkrida dan Bank NTT. Perjanjian ini penegasan secara hukum antara Jamkrida dan Bank NTT,” jelasnya.
Baca Selengkapnya